|
|
pecahan-pecahan cermin yang kupungut dari sampah keputusasaan.. kuharap tak membuatmu terluka; tapi paling tidak- meski samar - dapat kau gunakan untuk sedikit berkaca.. Hany my, Lelaki kelahiran Pati, 28 januari 1977. Mulai belajar menulis puisi dari tahun 2000. Bersama temannya di Sanggar Gambuh -Sale-Rembang pernah membikin dua bundelan kertas yang dinamainya 'Antologi Puisi Dua Dawai Sumbang' yang diterbitkannya sendiri dan hanya dikonsumsi sendiri. Puisi baginya masih sekedar 'ritualitas onani' : sekedar pelepasan dari dahsyatnya zaman 'keterbukaan aurat' sekarang ini. Berdomisili di Solo dan terkadang pulang kampung ke Sale-Rembang. email: hanys3@plasa.com/ID YM: hanys8 |
|
toilet puisi
A P A K A H Y A N G P A L I N G P U I S I
|
|
Siapa yang Membangun Sorga Di bawah Telapak Kakimu? :etca Aku berusaha membaca peta pada deru suaramu, pada penggalan-penggalan kisahmu. Kucium dupa dan anyir darah: begitu sakral dan asing. Adalah sebuah upacara pengorbanan, entah kepada siapa: kutangkap teriakanmu yang pecah di ujung tenggorokan, berat, lirih. Kutemukan sehunus pisau sejarah masih basah bersimbah darah disampingmu. Kemudian kusaksikan untaian pelangi menjelma tali warnawarni mengikatmu: dalam bungkus kafan, dalam lahat penghukuman. ceritamu tentang segelas anggur dan setetes airmata atau mungkin segelas airmata dan setetes anggur? entah apa kau menamainya yang jelas masih tersisa sebuah tanya: dimanakah kau letakkan segayung darah dan setimba keringatmu? ;bukankah hidup adalah mengeja peluh, memaknai alir darah, menterjemahkan airmata dan baru mendulang bercawan-cawan anggur kemudian? Aku teringat sepatah dongeng: tentang sesosok bulan yang selalu menutup diri dengan rahasia-rahasia. Bulan angkuh yang hanya sedikit waktu untuk kita nikmati purnamanya. Sehingga yang sering kita lihat hanyalah malam yang kental putus asa, atau sebilah bulan sabit yang siap mencabik-cabik siapa saja: begitu tajam. Selayaknya roman-roman yang berakhir bahagia akupun membaca sekisah yang mengingatkanku padamu: Tentang sepasang kekasih yang bercengkrama diatas bulan sabit, saling bersulang anggur, sambil menunjuk bintang-bintang yang paling indah: Adalah kau dengan seseorang; Seseorang yang membantu melunasi hutang yang pernah kau pinjam pada hidup. Seseorang yang menguapkan airmatamu, menjadikannya awan doa sekaligus mengirimkan derai hujan penuh cinta. Seseorang yang siap membangun sorga dibawah telapak kakimu: kelak untuk anak-anaknya..
posted by Tu_han_Tu at 6/19/2003 11:32:00 PM
Penapena Diri apa arti sebuah kalimat bila katakata tak bergandeng mesra apa arti kata bila hurufhuruf tak tereja apa arti huruf bila garis tak tergurat tegas apa arti garis bila tak ada titik sebagai tanda apa arti titik bila pena tak bekerja akan kucari penapena diri dan kugurat syair kesejatian pada lembar kesaksian hidupku
posted by Tu_han_Tu at 6/19/2003 11:10:00 PM
Demi gadis yang didewasakan badai dan luka :nadja Di matamu terlipat peta: aku menitinya berbekal obor rindu, sebungkus rokok kesunyian dan sekompas rasi bintang. Menyusuri garisgaris luka yang pernah ditorehkan cinta pada sekujurmu. Mengamati guratanguratan pedih yang sempat dititipkan sejarah pada halaman depan lembaran hidupmu. Meski gelap dan gerak angin tak menentu, masih coba kujaga nyala api ini di tanganku: biar tak padam mimpi, agar tak pekat ruang hati. Impian atasmu begitu saja terbangun: tentang ladang bunga, sepasang kupukupu yang berkejaran, atau tentang bulan di mana tatapan rindu kita bertemu. tentang puingpuing berserak yang kemudian kita susun bersamasama. juga tentang pelangi yang kita pisahkan warnanya menjadi pita-pita untuk hiasan rambutmu aku datang bersama deru angin atau lewat udara yang menyesakkan dadamu aku hadir bersama terbitnya mentari atau lewat sinarnya yang menghangatkan gairahmu demi kau, gadis yang didewasakan badai dan luka jangan pernah ragu karena tapak kaki kita adalah satu
posted by Tu_han_Tu at 6/17/2003 12:31:00 AM
Kreto Jowo malam terbatabata kata menghisap kesunyian nasib guratanguratan tanganku masih sama kereta tanpakuda tanparoda tetap disini disini adakah layak menyeru-Mu sedang tak berbilang khianatku meringkuk di pintu pekuburan dingin, sepi, merampas diri katakan sekarang, Wahai haruskah beranjak kedalam : baiklah masih sepi hanya nisan berbaris kamboja melebah hitammalam hitamtanah tunggu aku menjelmamu sebentar lagi jari mencangkul sedalam apa tuk baringkan ini diri sebutir dua makin lobang menganga menggoa sekira cukup dan tibalah lelah kantukku aku harus melunaskan mimpi terakhir beranjang tanah berselimut tanah sambut aku aku telah kembali : neraka, tunggu bulan madu kita!
posted by Tu_han_Tu at 6/12/2003 11:58:00 PM
Setangkai Bunga Baru : nadja Aku mengenalmu pada sebuah kotak teknologi. Kegagapanku terhadap hidup sedikit terusir setelah dering telphon darimu. Engkau yang turun dari tahta pesona, meraih hati bekuku yang sedang merindu kehangatan cinta. Suaramu mengalun lembut mengusap keangkuhanku. Rayu manjamu menjelma melodi yang bernyanyi syahdu mengantarkan mimpimimpiku. Desah nafasmu yang menyusup halus di relung nurani, mampu menjinakkan semua keliaranku. Meski raga belum bertemu, namun aku merasa begitu lama mengenalmu: engkau bukanlah orang asing bagiku. Ya, aku menemukan diriku diantara untaian kalimatmu. Kekasih, Terimalah gema kerinduanku disela kesendirian hariharimu Jagalah getargetar cintaku yang merambat di sekujur jiwamu Ciumlah aroma kemesraan yang kuhembuskan pada tiap tarikan nafasmu..
posted by Tu_han_Tu at 6/12/2003 11:47:00 PM
Kupinta Kesetiaannmu aku menyerumu malam ini dan dalam keyakinan bahwa engkau terima suara lantang kerinduanku Ketahuilah sayang, aku telah menitipkan rinduku pada kicau burung di pagi hari ataupun lewat sepoi angin malam yang berbisik mesra merayumu. Lihatlah matahari dan bulan yang setia mengiringi waktumu, karena telah kuwakilkan diriku pada terang cahayanya. Atau sesekali renungkanlah udara yang kau hirup pada tiap tarikan nafasmu, maka akan kau dapati diriku memenuhi rongga dadamu. Janganlah kau terjebak dalam keraguan tak pasti, karena itu akan membuatmu jauh dari dirimu sendiri. Apakah huruf-huruf cinta yang terpahat di hatimu tak pernah engkau eja kembali? Apakah tak kau rasakan darah pengorbananku mengalir deras di nadimu? Apakah tak kau terima senyum tulusku ketika kau lihat terbitnya matahari? Berulangkali aku meyakinkan dirimu, bahwa penungguanmu adalah sebuah pengabdian terhadap perjalanan waktu. Dan nilai kewanitaanmu adalah terletak pada kesetiaanmu, untuk memegang perjanjian cinta tanpa tersesat oleh bisikan ruang dan masa.
posted by Tu_han_Tu at 6/09/2003 02:14:00 AM
Memang, Hidup adalah sebuah kutukan! di bawah lahat keputusasaan, kau menjelma akar pohon yang menjulur dan menembus ruang gelap kuburku. menamparku dari arak, asap rokok, bantalguling dan kursi malasku. mencerabut kesadaranku bahwa putaran jagad raya tak pernah berhenti bersama kakikaki hidup yang harus terus menapaki jalan darah. kau mengingatkanku bahwa waktu begitu kejam menggilas mereka yang bersetubuh dengan rajutan mimpi tanpa pengurasan keringat. letih kau berkatakata, mencambukiku dengan kalimat keramatmu, sedang aku masih asyik mengeja titik, garis dan sibuk merekareka hurufhuruf hidup yang usang. masih kuingat percakapan kita malam itu setelah perjamuan birahi: "hidup adalah sebuah kutukan, gadis. santai saja, nikmatilah yang terasa. tak usah menyiksa diri untuk mengubahnya, karena itu berarti menambah kutukan bagi kita." dan bibir mungilmu itu berucap: " kau benar, sayang. hidup memang sebuah kutukan, namun kita harus mencucinya, agar warna gelap kutukan itu berubah menyala." aku tertegun, kulihat wajahmu, kau bersemu. ternyata perjamuan birahi malam itu belum usai. kita mengulanginya, berkalikali, dan berangsur hitam pekat kutukan memang berubah.. : sewarna dengan nyala api!
posted by Tu_han_Tu at 6/05/2003 01:34:00 AM
|